Dapat uang hanya karena sharing? Sulit dipercaya sampai akhirnya ada website ini. :D

23 Sep 2012

Kepergian Yang Tak Terduga


Sore itu terdengar sayup-sayup suara memanggilku. Dari kejauhan sebuah bayangan mulai tampak. Semakin dekat, dan dekat, bayangan itu terus memanggil namaku. Aku segera tersadar dan berdiri. Namun aneh, tubuhku terasa ringan dan sangat dingin. Aku mulai berlari menghampiri bayangan itu. Saat kami bertemu dan bertatapan, aku coba untuk tersenyum. Tapi??

Bayangan itu terus saja berjalan kedepan tanpa memperdulikanku, dan perlahan mulai menembus tubuhku. Aku mulai bertanya "Bagaimana bisa dia menembus tubuhku??". Kucoba untuk menoleh kebelakang mengikuti bayangan itu berjalan. Betapa terkejutnya aku, aku melihat tubuhku sudah tergeletak di tengah jalan dengan darah segar yang sudah mengucur dari kepala. Dan aku lihat sudah banyak orang yang mengerumuniku. Aku terpaku, aku tak mampu untuk berkata-kata.

Bayangan itupun perlahan mulai memelukku sambil menangis histeris. Aku coba untuk berbicara dengan bayangan itu, namun ia tak bisa mendengarku. Aku mencoba dan terus mencoba, namun apa daya bayangan itu tetap saja tak mendengar omonganku.

Aku terus mencoba untuk berkomunikasi dengan bayangan itu. Tapi tetap saja tak ada tanggapan. Aku mencoba untuk membangunkan tubuhku, tapi tubuku tak mau bangun. Aku bertanya pada Tuhan “Tuhan, sebenarnya apa yang telah terjadi?? Apakah aku sudah meninggal??”.

Seketika itu tiba-tiba ada ambulance yang datang. Para petugas rumah sakit segera mengangkat tubuhku yang kaku tak berdaya. Bayangan itupun juga ikut bersama ambulance yang membawa tubuhku. Aku baru sadar, ternyata bayangan itu sebenarnya adalah sahabatku. Perlahan, mobil ambulance itupun berjalan menjauh meninggalkan aku yang masih shock, hingga akhirnya hilang di belokan jalan.

Akupun mulai menangis dan berlari pulang ke rumah. Di jalan aku mulai bertanya-tanya lagi “Sebenarnya apa yang terjadi Tuhan?? Bagaimana bisa?? Bagaimana mungkin??”. Banyak pertanyaan yang menangui pikiranku.

Sampai dirumah, aku lihat Ibu menagis tersedu dengan ayah yang setia mendampingi Ibu serta membacakan surat yasin sambil sesekali mengeluarkan air matanya. Aku segera masuk dan memeluk keduanya. “Ayah, Ibu, Cici disini. Ayah sama Ibu jangan nangis lagi ya. Cici nggak mau liat Ayah sama Ibu nangis.”

Beberapa saat kemudian telepon rumah berdering. Ibu segera mengangkat telepon itu. Sesaat itu juga, tangisan Ibu mulai terpecah kembali. Lalu Ayah segera menghampiri telefon yang dipegang Ibu. Terdengar suara lelaki di seberang sana. Setelah selesai, Ayah menutup telepon dan segera mengajak Ibu pergi menggunakan mobil.

Akupun ikut masuk ke mobil. Aku duduk di tempat yang memang biasa aku tempati setiap aku naik mobil. Disepanjang perjalanan itu Ibu hanya bisa menangis. Dan Ayah mulai berbicara pada Ibu “Sudah bu, jangan menangis terus. Nanti kalau Ibu nangis terus, arwah Cici nggak akan tenang disana. Ibu mau kalau Cici tersiksa dialam sana?Sudah ya bu, jangan menangis lagi.” kata Ayah sambil tersenyum menguatkan hati Ibu.

Mobilpun perlahan mulai berhenti didepan rumah sakit. Ayah dan Ibu segera keluar dari mobil dan menuju tempat yang ditunjukkan seseorang saat ditelepon tadi. Ternyata Ayah dan Ibu menuju ke kamar mayat dan aku lihat disana sahabatku juga sudah berjaga sambil masih menangis terisak dengan muka pucat.

“Tante, Om, Ceri minta maaf, Cici meninggal gara-gara Ceri.” kata sahabatku sambil masih menangis.

“Sudah Ceri, kamu nggak usah merasa bersalah begitu, Cici meninggal bukan karena kamu. Mungkin Tuhan memang sudah mentakdirkan Cici meninggal. Sudah Ceri, kamu nggak usah menangis lagi ya. Lebih baik kamu berdoa supaya Cici tenang disana.” kata Ibu dengan nada kasih sayangnya seraya memeluk Cici.

Akupun mulai teringat kejadian sebelum aku meninggal. Diawali pada pagi tadi, aku pergi jalan-jalan menyusuri alun-alun kota dengan Ceri. Kami berjalan-jalan sambil membeli jajan yang kami inginkan, kami juga jalan-jalan menyusuri beberapa tempat yang sengaja ingin aku tunjukkakn pada Ceri. Karena kebetulan sebenarnya Ceri bukan orang asli Magelang, makannya aku ingin menunjukkan beberapa tempat tersebut. Dan kebetulan juga ini hari terakhir Ceri ada disini.

Dari pagi sampai sore kami berjalan-jalan tanpa lelah menyusuri  sudut demi sudut Magelang kota. Sampai akhirnya sekitar pukul  16.15 kami memutuskan untuk pulang karena Ceri akan segera pulang ke Semarang. Namun pada saat aku menyeberang jalan, aku tak begitu memperhatikan kanan kiri. Dari arah Utara, ada bis yang melaju dengan cepatnya karena ingin mendahului mobil yang didepannya. Dan tiba-tiba bis itupun menabrak tubuhku sampai terlempar sampai 10m. Sesaat aku masih tersadar, namun saat aku coba untuk membuka mata kembali perlahan disekitarku berubah menjadi gelap dan hitam. Saat aku terbangun kembali aku merasa ada yang aneh, dan ternyata aku sudah meninggal.

Aku tertegun melihat Ceri yang tak henti-hentinya menangis dengan muka yang mulai pucat. Setelahnya Ayah, Ibu, Ceri dan Aku segera menuju ke mobil dan melanjukan mobil pulang kerumah. Ternyata di rumah, sanak saudara, tetangga, teman, dan semua yang mengenal Ayah dan Ibu sudah datang untuk mendoakanku.

Paginya saat aku akan dimakamkan, aku tak melihat Ceri mengantarkan kepergianku. Saat aku coba mencari, ternyata Ceri terbaring lemah dikasur dengan muka yang sudah sangat pucat. Aku ingin sekali memberinya semangat, tapi aku tak bisa. Aku ingin memberi salam perpisahan untuknya, tapi aku juga tak bisa.

Akupun mulai berdoa pada Tuhan “Ya Tuhan, apakah aku sudah benar-benar meninggal?? Jika iya, aku ingin semua orang yang aku tinggal sekarang,  jangan sampai menangisi kepergianku. Tolong kuatkan hati dan pikiran mereka. Aku tak ingin melihat kesedihan diwajah mereka semua Tuhan.”



0 komentar:

Posting Komentar

*Silahkan berkomentar sesuka hati kalian namun jangan berkomentar yang mengandung SARA ataupun cemoohan terhadap orang lain. Terimakasih :)